Senin, 15 Juni 2009

pingin curhat wae!

Hanya kamu yang bisa! Dengerin lagunya Tiket, aku jadi sadar bahwa apa yang kulakukan kemarin seolah berada di jalan yang bengkok. Kok ada ya jalan bengkok? kalau berkelok atau menikung sih ada? Tak tahulah. Emang dari memoriku ada stk kata itu juga. Hehehe... Soalnya waktu sekolah dulu pernah menerima wejangan dari pak ustad yang mengatakan begini, "jangan kalian berjalan di bengkok". Tetapi ada yang bilang juga, "Sekali-2 jalan bengkok dilalui tak apa-apa jangan asal jangan kebablasan. Siiip deh....

Memang sih, untuk meraih apa yang kita inginkan hanya diri kita yang tahu. Mau dibawa ke mana langkah kaki kita, itu juga yang tahu hanya diri kita.

Kawan, sudah lama aku menantikan saat-saat di mana aku dapat mencapai apa yang telah menjadi targetku. Namun semua itu tak semudah angan. Perlu aksi nyata dan selalu memohon kepada Tuhan agar selalu diberi kemudahan. Plong rasanya jika kita mampu meraih apa yang telah sekian lama hanya menjadi angan.

Semoga kali ini dewi fortuna berpihak padaku....

Jumat, 12 Juni 2009

Be Happy with Lautan Jilbab

Akhirnya setelah sekian lama, lautan jilbab bisa ngumpul bareng lagi. Cerita-cerita dari hal-hal yang remeh temeh hingga kelas "kakap". Wuih padahal aku tak begitu suka memakannya.

Ini dia personil Lautan Jilbab: ada Mala, Habib, Ulya & Rani. Dengan kelebihan dan kekuarangan yang dimiliki, kami saling melengkapi.

Agenda hari ini adalah membicarakan soal persiapan acara resepsi mbakyu-nya Habib. Lautan jilbab ikut dalam kepanitiaan lho? Hehe... Belum fix sih membahas susunan acaranya, tapi lain kali bisa kita sambung lagi kok. Pis....

Hari ini tampaknya juga hari yang membahagiakan bagi Ulya. Proposal skripsinya diterima, meski belum disetujui kajur sih. Tapi pembimbing sudah menyanggupi, ya amanlah... Hore!!!! Yang lain semoga cepat nyusul ya?? Semoga Lautan Jilbab bisa tetap eksis deh!

And then, biasalah kaum hawa kalau lagi ngumpul ada-ada saja yang dibahas. Cerita lucu hingga tertawa cekikian atau lihat fotonya Habib yang sedang jadi ajang corat-coret kuas temannya. Sumpriiit beda banget man!!!

Habis maem bareng, aku jadi narasumber mereka buat wawancara. Lumayanlah, sebagai ajang latihan siapa tahu suatu hari nanti jadi orang penting hehe...

Aku tahu guys, kalian begitu peduli. Aku jadi terharu sekaligus juga bisa tertawa-tawa. Satu lawan banyak (tiga orang). Kenapa bisa tertawa-tawa? Habis perekamnya sambil jalan-jalan sih. Kan jadi nggak konsen.

Tapi untuk sekarang kukira belum saatnya, Teman. Aku masih ingin sendiri. Menata kembali arah hidup menuju cita-cita. Namun, aku pun takkan menampik jika di tengah jalan nanti Tuhan mengirimkan seseorang yang mampu membimbingku menuju keridhoanNya.

Semoga kebersamaan kita takkan berakhir. Trims for Yours Attention, Guys!!!!!!!

Kamis, 11 Juni 2009

BIMBANG....

Pernahkah kau merasa tak menepati janji? Meski itu untuk diri sendiri. Aduh... ternyata repot juga ya? Mengerjakan dua hal secara bersamaan. Karena keduanya memerlukan perhatian yang sama besarnya. Bisa nggak sih merengkuh keduanya secara bersamaan?

Di antara dua pilihan, antara kuliah dan organisasi. Telah lama kurenungkan, untuk memutuskannya. Meski aku telah memutuskan untuk memilih menyelesaikan skripsiku sesuai tenggat waktu yang kutentukan sendiri, namun itu juga belum dapat kupenuhi sepenuhnya. Hehehe....

Kegiatan di organisasi yang begitu banyak menguras tenaga dan pikiran telah membuatku begitu terlena (boleh lebay kan?). Aku belum bisa meninggalkan organisasi yang telah banyak memberikan warna-warni dalam hidup. Ada canda, tawa, cacian bahkan tangisan semua telah campur aduk menjadi satu. Seperti permen nano-nano itu lho? Ada manis, asem, asin, pokoknya ada-ada saja. Di sanalah aku menemukan sebuah keluarga baru. Terkadang pernah sih timbul niat untuk keluar saja. Namun karena sebagian hatiku juga tertinggal di sana, jadi ya selalu kembali. Ah Tuhan begitu berat meninggalkannya. Boso jawanya "eman-eman".

Di lain pihak. Skripsi yang tak kunjung kelar, membuatku terkadang merasa begitu bersalah karena telah menyia-nyiakan kepercayaan orang tua. Saat di rumah menyaksikan pengorbanan mereka kadang benar-benar membuat dadaku seakan penuh sesak dan bahkan tak terasa mataku berkaca-kaca. Dari pagi bahkan kadang hingga sore tak menemukan bapak di rumah. Matahari telah menempanya untuk menghidupi keluarga. Begitupun ibu-sosok yang selalu bekerja keras-demi kebahagiaan anak-anaknya. Tak lupa mereka selalu mendoakan kami-anaknya agar cita-cita kami tercapai.

Kegiatan lusa semoga sukses, hingga aku bisa fokus dulu dengan tanggung jawabku. Baik sebagai mahasiswa yang selalu dikejar untuk menyelesaikan skripsi maupun sebagai pengelola yang selain mencari dana juga kebagian nulis.

Semoga usahaku untuk menyelesaikan skripsi sebelum puasa dapat tercapai. Amiiinn.....

Senin, 08 Juni 2009

Delivery Love

Suatu siang di musim panas. Hari masih begitu terik untuk pulang menuju apartemenku. Aku masih bermalas-malasan di kantor redaksi yang telah tiga tahun terakhir memberi penghidupan padaku. Terlihat teman-teman ada yang masih begitu sibuk menyiapkan segala sesuatu meski sudah saatnya pulang. Maklum, esok merupakan hari yang begitu mendebarkan bagi kami semua. Pesta ulang tahun koran ini. Banyak pejabat dari beberapa negara bagian yang diundang, jadi persiapan harus sangat matang.

Meski mengeluarkan produk untuk kaum Adam, tapi yang kerja di sini lebih banyak wanitanya. Sesuai hasil sensus ditemukan data bahwa jumlah penghuni dunia ini mayoritas adalah wanita. Jadi tak mengherankan bukan?

“ Serena, kok nggak jadi pulang?”, seru Mr Alan McKrackers yang menjabat sebagai chief of editor menghampiriku.

“Masih males, Sir. Di luar panas sekali”, jawabku singkat sambil mencuri-curi pandang ke arahnya. Diapun hanya berlalu begitu saja, meninggalkanku yang masih asyik memandangi kepergiannya. Meninggalkanku termangu sendiri.

Ah.... lagi-lagi cuma basa-basi. Mbok ya berusaha untuk nganterin. Dasar tidak peka dengan keadaan!

Entah telah berapa kali aku berusaha untuk menolak pesonanya. Dari dulu hingga sekarang aku masih menjadi pengagum rahasianya. Kesederhanaannya, kepandaiannya bicara di depan staf-staf atau relasinya, hingga keisengannya begitu membuatku kagum. Meski kadang suka teledor kalau menyimpan barang. Suka sembronolah.

Memang sih dia tidak setampan Tom Cruise yang menjadi artis idolaku. Itu lho pemain sineton “Cinta Fitri” yang jadi Farel. Bukannya yang jadi Farel itu Teuku Wisnu ya? Hehehe.... Atau bahkan Indra Bruggman-artis Indonesia yang blesteran itu. Yang menjadi dambaan para penggemarnya. Bagaimana tidak, dari penampilan fisiknya aja benar-benar sempurna. Maklum wajah-wajah blesteran itu kini begitu marak muncul di layar kaca. Tapi saat ini, aku tidak mau atau berminat dengan semua itu.

Aku menyukainya dengan caraku sendiri. Bahkan hingga saat ini pun aku tampaknya begitu pandai menyimpan rahasia kalau aku telah menyimpan namanya di hatiku. Teman-teman sekantorku tak ada yang tahu.

Mengapa aku menyembunyikan semua ini? Karena saat ini dia telah memiliki seseorang yang mungkin sangat istimewa di hatinya. Bahkan orang itu juga sahabatku sendiri. Aku tidak tega menghancurkan kebahagiaan mereka.

Semua usaha untuk menolaknya telah kulakukan. Perlahan-lahan kutepis dan kutahan semua perasaan yang selalu menghantui pikiranku. Namun tampaknya panah asmara itu begitu kuat hingga kadang aku tak kuat untuk menolaknya.

Terlalu baik. Mungkin ini adalah sebuah ungkapan tepat yang kuberikan padanya. Sifat loyalnya pada para karyawan di sini membuatku tambah jatuh hati. Apalagi jika di antara kami sedang betul-betul membutuhkan bantuannya, dia selalu siap sedia untuk membantu.

Pernah suatu ketika tanpa sengaja aku menemukannya dalam keputusasaan. Entah bagaimana aku bisa teringat dengan kisah Dayang Sumbi yang saat itu tanpa sengaja berujar, ”bagi siapa pun yang mau mengambilkan benangku yang jatuh itu akan kuberi imbalan. Kalau wanita aku angkat sebagai saudara dan jika lelaki akan kujadikan suami”. Olala... hingga ujaran tersebut didengar oleh anjingnya-si Tumang. Lalu begitulah yang terjadi. Apakah itu nyata atau hanya cerita saja? Tapi dongeng itu masih hidup di masyarakat sampai saat ini.

Tapi aku tidak berhasrat seperti si dayang Sumbi itu. Aku hanya membatin saja. Seandainya..... Waktu itu hari begitu terik hingga kurasakan badanku sudah begitu lelah. Di sebuah halte aku menunggu bus yang tak kunjung datang. Detik demi detik berlalu, bahkan menjadi menit. Satu dua menit berjalan hingga terasa begitu lama. Setengah jam hanya tengok-tengok kepala. Capek juga. Uuhfffffffffffffffffff...

Baru saja aku menundukkan kepala dia sudah ada dihadapanku dengan mobilnya. Oh Tuhan, lidahku begitu kelu untuk membalas sapaannya. Satu. Dua. Aku menarik nafas. Mengapa dia sering datang d saat aku terkadang dalam keadaan nyaris putus asa. Dan kehadirannya benar-benar membuatku bahagia sekali.

Kini aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Karena Dialah yang maha Mengetahui. Aku akan menerima semua ini dengan penuh keikhlasan. Tapi dulu aku sudah merelakan kekasihku untuk orang lain. Haruskah kali ini aku melakukan hal yang sama Tuhan????

Refreshing

Kemarin baca buku yang menarik abiezzz ceritanya. Buku ini mengisahkan tentang seorang wanita karier yang harus merawat keponakannya yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya akibat gempa yang mengguncang yogya. Istimewanya bocah tersebut adalah seorang penderita autis yang memerlukan orang2 ada di sekitarnya selama 24 jam penuh.
Cerita mengalir dengan indah, bahkan dari baris ke baris menimbulkan rasa penasaran. Jadi mau tak mau harus dilahap habis meski kokok ayam sudah memberi tanda bahwa pagi akan segera datang. AKu sih cuma membayangkan saja, bagaimana jika aku berada di posisinya.
Namun dengan tekad yang kuat, penyakit autis sedikit demi sedikit dapat disembuhkan. Wuih.... pokoknya TOP BANGET deh. Semoga besok2 aku dapat membuat resensinya. (Bersambung)

Jumat, 29 Mei 2009

Belajar Nulis

Nulis yuuuk!

Apa susahnya sih nulis? Meski kalimat itu sering terlontar dari mulutku untuk teman-teman dekat, namun toh aku sendiri nggak bisa menjalaninya secara rutin (sedikit muna ya-tapi nggak apa-apa untuk kebaikan bersama hehe.....). Ada memang keinginan untuk menuangkan segala isi hati untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan .

Terkadang semua keinginan itu menguap begitu saja. Padahal jika aku menuliskannya akan menjadi berlembar-lembar tulisan (hitung saja jika sehari bisa menghasilkan minimal satu paragraflah, berapa yang dihasilkan dalam setahun?). Dan mungkin semua itu akan menjadi hal terindah yang pernah aku miliki. Entah itu sesuatu yang mengandung rasa senang, sedih, atau bahkan umpatan-umpatan terhadap orang-orang yang kadang membuat hati sebel.

Ah andai saja aku dapat menuliskan segalanya , mungkin penyesalan tak akan terjadi. Tapi sering kudengar bahwatidak ada kata terlambat to do something guys.

Meski banyak buku tentang gampangnya mengarang telah kulahap habis (ge-er padahal hanya beberapa saja deh), diskusi atau seminar tentang tema yang sama pun sering didikuti, namun tanpa tindakan semua aktivitas itu sepertinya menguap begitu saja. Memang sih setelah membaca ada semacam semangat untuk menumbuhkan jiwa menulis. Demikian juga halnya saat mengikuti seminar. Betapa semangat itu membara dalam dada. WAH HABIS INI AKU INGIN RAJIN MENULIS. Dan setelah selesai pun kalimat itu menguap begitu saja. Memang kadang ingin menuliskan semau hal yang kita alami.

Pernah aku mengajukan pertanyaan kepada pengisinya acara. Bagaimana Anda bisa menulis sedemikian lancarnya, dengan kata-kata yang indah sehingga membuat pembaca seakan ikut larut dalam tulisan anda? Dengan santai jawaban pun meluncur “tulis saja apa yang ingin kau tulis”. Untuk membuat sebuah tulisan yang baik pun perlu proses. Kita tidak usah khawatir sebagi penulis amatir kalau dibilang tulisan kita itu ecek-ecek. Toh semuanya nanti ada prosesnya. Dari tulisan ecek-eceklah kita nantinya mampu membandingkan bagaimana tulisan kita itu dengan tulisan-tulisan selanjutnya hingga menghasilkan karya yang begitu memmukau (intinya pede aja). Jangan persoalkan masalah ejaan. Biarkan semuanya mengalir begitu saja. Tak usah dipermasalahkan. Lama kelamaan kita pasti akan menemukan ejaan yang benar, biarkan insting yang bicara hehe...

Lalu apa modal utama seorang penulis itu? Yang pastinya pengalaman dong. Pengalaman itu bisa kita dapatkan dalam kehidupan di sekitar kita dan bacaan. Dengan rekaman-rekaman yan telah diterima oleh otak kita. Yang nantinya kita akan dapat memakai semua rekaman peristiwa yang telah di terima oleh otak kita itu dan kita dapat memilahnya. Selain itu, dengan membaca kita juga dapat menambah perbendaharan kata yang mungkin tidak kita dapatkan dalam pergaulan kita. So, membaca itu penting buat modal menulis.

Terus terkadang kita juga mengalami kemandegan ide saat tulisan itu sudah ada di tengah jalan. Lalu bagaimana agar tulisan itu tetap bisa tamat? Makanya kalau nulis jangan berhenti di tengah jalan tar ketabrak mobil atau motor yang lewat wkwkkkk... Kalau emang sudah blank mending berhenti sejenak (relaksasi) bisa dengan melihat pemandangan sekitar dan temukan apa yang ada di sekitar itu lalu tuangkan ide selanjutnya. Makanya untuk dapat membuat semua berjalan lancar katanya seorang penulis itu harus peka terhadap lingkungannya. Jika masih belum mempan, tulis saja yang mengalir di pikiran tak usah dihiraukan apakah nanti tulisannya nyambung atau tidak. Yang pasti nanti kita juga bisa mengeditnya lagi kan?

Jadi mulai sekarang jangan ragu lagi untuk menulis. Dengan tulisan itu kadang kita dapat melihat rekaman-rekaman ynag mungkin bagi otak kita tak bisa selalu menyimpan memori tentang sebuah peristiwa. Jadi bener tuh ungkapan SCRIPTA MANENT VERBA VOLANT *semoga tulisannya benar deh*. Aku sih kurang begitu hafal artinya, tapi intinya apa yang kita tulis itu akan selalu menjadi sebuah kenangan yang abadi. I like this. Semangaaat!

(Tulisan ini terinspirasi saat mengikuti workshop jurnalistik tingkat dasar yang diselenggarakan oleh LPM Hayamwuruk pada 9-10 Mei 2009)

episode 2

Dari hari ke hari sepertinya waktu cepet banget berputar. Deadline untuk diri sendiri telah ditetapkan. Tapi ternyata untuk memenuhi janji bagi diri sendiri juga tak mudah. Ada saja godaan untuk melakukan hal-hal di luar jadwal. Tapi tak apalah, mungkin dengan melakukan kebaikan dengan orang-orang di sekitar sipa tahu Tuhan juga akan memberi kebaikan buat diri kita. Semoga aja deadline itu bisa jadi penyemangat untuk mencapai target yang harus ditempuh.

Proses skripsi ini terkadang membuatku pusing. Bahkan saat bikin surat yang mau dijuin ke PD kemarin salah nulis. Harusnya kegiatannya bulan depan eh malah tertulis bulan ini. Padahal tanggalnya dah betul, tapi tetap aja fatal. Hingga mereka diskusi sendiri, dikira aku salah nulis tanggalnya. jadi mereka ambil inisiatif untuk mengubah tanggalnya. Soal ralat meralat sebetulnya nggak apa2, tapi malu banget kan? :)

Harusnya hari ini konsultasi lagi, tapi buku yang mau dijadikan referensi belum ketemu. Cari di perpustakaan fakultas males banget. Pengaturan bukunya semrawut. HUufff...