Minggu, 24 Mei 2009
episode 1
Dulu kita sih nyantai aja tanya sama kakak2 yang sudah masuk semester tua (nggak usah disebutin smt brp ya?) "gimana skripsinya?" dan beragam jawabanpun terlontar: ada yang belum, ada yang masih dalam proses, dll. Mungkin mereka juga merasa agak gimana ya menjawab pertanyaan dari adik2 angkatan.
Sekarang pertanyaan itu seakan menjadi peluru yang siap menembus jantung. Aduh pusingg.... Sebenarnya kalau mau diambil sisi positifnya sih bisa menjadi sebuah semangat untuk segera merampungkan skripsi. ya lebih baik pisitive thinking daripada mikir yang enggak-enggak malah bikin sakit hati. udah bayar kuliah mahal-mahal, orang tua di rumah kerja keras eh kita malah kadang seenakanya aja melalaikan tugas kita. Bisa dibilang apa yang kita lakukan saat ini merupakan amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan.
Tampaknya kita patut bersyukur atas segala anugerah yang kita terima: keluarga, sahabat dan orang-orang yang selalu memberikan wisdom di saat jiwa kita memerlukannya.
Bagaimana cara kita mencapai tujuan hidup kita itu hanya bisa dijawab oleh kita sendiri. Lets Go to Our Dream!***
sebel!
Jumat, 08 Mei 2009
mengais mimpi
Kulihat engkau menyapaku dengan lesung pipit di pipimu, lalu kubalas dengan senyum termanis yang telah kuseleksi di depan kaca kamarku semalam. Dengan keindahan mimpi yang menghampiri, kucoba menyelipkan sekuntum kenangan.....
Suara lonceng berdenting seolah membangunkanku dari mimpi. Aku harus bangun karena hidup adalah kenyataan. Siapapun boleh punya mimpi, karena tanpa mimpi kita tidak akan pernah tahu ke mana arah kaki kita melangkah. ^-^
Minggu, 03 Mei 2009
uneg2
Kehilangan sesuatu yang berharga. Seminggu yang lalu aku tak menyangka hari itu menjadi hari yang nahas bagiku. Di saat sibuk-sibuknya menjelang acara diskusi, cobaan itu datang. Dua buah hp yang kebetulan menjadi media silaturahmi dengan para pembicara lenyap saat sedang wudhu di musholla kampus.
Tak hanya itu, padahal di dalam dompet hape itu juga ada flasdisk dari seorang pembicara. Oh.. sedihnya. Jadi nggak enak... Mungkin juga mereka menghubungiku pada detik-detik menjelang acara? Entahlah. Yang ada di pikiran adalah bagaimana nanti bisa bersikap biasa aja di depan teman2 dan tentunya para pembicara + undangan + peserta yang sudah datang. Suatu tantangan terbesar adalah mencoba bersikap legowo namun jika mengingat peristiwa itu seolah ingin menumpahkan segala keluh kesah.
Pemberian sambutan hanya singkat saja, segala persiapan tampaknya menguap begitu saja beriringan dengan rasa sesalku stlh mengetahui bahwa aku tlah kehilangan benda yang selalu menemaniku.
Sebelumnya, banyak kejadian yang serupa juga menimpa teman2 kampus. Ada yang kehilangan tas + seisinya, meski beberapa minggu stlh kejadian yang balik hanya surat2 saja. Ada lagi yang kemalingan , de-el-el.
Yang kadang membuatku heran. Sudah begitu lunturkah nilai moral yang tertanam dalam jiwa bangsa ini. Hingga tak bisa lagi membedakan antara hak dan bathil. Entah mengapa, di tempat orang-orang berdatangan untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Tuhannya masih juga ada orang yang tega-teganya mengambil barang yang bukan haknya.
Mau gimana lagi? Barang sudah nggak ada, mau dikejar kemana pula? Tak ada satu jejakpun yang bisa ditelusuri. Sekarang hanya bisa pasrah dan semoga ada hikmah dibalik peristiwa itu.
Buat teman2 dan juga diriku sendiri, mungkin kita harus lebih hati2 dalam menjaga milik Qt. Jd ingat nih. Dulu pada zaman shohabat Nabi, ada seseorang yang teledor dalam mengamankan ontanya. Meski dijawabnya bahwa Allah telah menjaga milikiknya itu, namun tetap saja ditegur untuk mengikat ontanya itu agar tidak lari. Jadi Intinya: Kita harus selalu bersikap hati-hati nih. Kapanpun dan dimanapun. kata Bang Napi nieh, "Kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan dan niat pelakunya. Jadi, waspadalah... waspadalah!". :)
Senin, 16 Februari 2009
sayangi pemilu
Lagi belajar dunia politik
Perlu Pendidikan Politik
Oleh Zumala Nahari
Pesta demokrasi sebentar lagi bakal digelar. Parpol mulai banting setir mencari massa. Lalu sudahkah masyarakat bersiap menyambut pesta akbar ini?
Menjelang pesta demokrasi terbesar (pemilu) di negeri ini sebagian masyarakat belum mengetahui pasti tanggal pelaksanaannya. Sementara itu, para aktivis parpolpun mulai merangkul massa sebanyak-banyaknya. Dari tokoh agama hingga orang-orang yang berpengaruh di masyarakat menjadi sasaran.
Namun meski pemilu 2009 sebentar lagi datang, banyak pihak yang memperkirakan meningkatnya golongan putih. Munculnya golongan ini, ditengarai karena kepercayaan publik terhadap orang-orang senayan mulai hilang. Kenaikan harga BBM yang lebih dari tiga kali dalam kurun waktu lima tahun merupakan hal yang begitu kentara dirasakan.
Idealnya, saat pemilu rakyat berbondong-bondong pergi ke TPS untuk memberikan hak suaranya, karena satu suara saja begitu berharga demi kelangsungan pemerintahan lima tahun ke depan. Lalu bagaimana jika golput muncul? Apakah mereka sudah malas dengan pemerintah--tidak percaya lagi dengan calon wakil rakyat yang suka mengobral janji--atau karena tidak mendapat imbalan?
Perbandingan yang cukup signifikan antara penduduk perkotaan dan pedesaan juga berpengaruh pada pemberian hak suara. Bagi orang pedesaan yang tipologi masyarakatnya tidak begitu paham akan politik, membuka peluang yang begitu lebar bagi parpol untuk menjaring massa sebanyak-banyaknya. Bahkan terkadang besarnya imbalan yang bervariasi dari tiap-tiap parpol juga berpengaruh terhadap hasil yang dicapai.
Tamapaknya kesadaran berpolitik di negeri ini masih tersandung oleh praktek money politik. Seperti peribahasa ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang. Uang memiliki kuasa yang begitu kuat. Bagi orang awam uang itu merupakan imbalan atas kedatangannya di TPS. Perkara mengetahui calon yang dipilih tak begitu penting. Tetapi kalau tidak ada imbalan, mereka lebih memilih berdiam diri di rumah atau menjadi golongan putih (golput).
Jika uang begitu kuatnya mempengaruhi hak pilih publik, bukankah itu sama saja menjual negeri ini ke tangan orang-orang yang ‘berduit’ semata. Jika modal tak kunjung kembali, korupsi merupakan salah satu langkah dalam meraih keuntungan.
Oleh karena itu, pendidikan politik perlu diberikan agar masyarakat mengetahui seberapa penting suara mereka. Ini tak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah saja tapi juga kita semua. ***
Jumat, 13 Juni 2008
PuisiKu
Matahari
Jangan bersedih ,
Karena matahari
tak muncul hari ini
Mungkin
ia juga butuh istirahat
Untuk mengumpulkan lagi sinarnya
Sinar yang selalu ia berikan
Agar kehidupan terus berjalan
Dengan sinarnya
Bumi ini menjadi terang
Dengan sinarnya
Ia beri kehidupan
Di bumi ini
Jangan menangis
Mungkin
hari ini ia kelelahan
Tapi jangan menyerah
Esok
Pasti ia akan muncul lagi
Dengan sinarnya yang cerah
Secerah senyummu
di pagi hari
Langkah Tertutup Kabut
Masihkah ada asaku
Untuk selalu mengingatmu
Kala noda masih menempel dalam nadi
Mampukah kubersihkan
Kotoran yang menempel
Dari lumpur laut hitam
Ingin kubangun dari rantai
Namun betapa kuat jerat yang memasungku
Tak kutahu lagi
Tepi yang kucari tak kunjung muncul
hingga kulihat
setitik sinar terang datang menghampiri
namun malang
saat ingin kutembus sinar itu
tubuhku leleh bagai lilin terbakar
Melodi pagi
Kala mentari menyapa
Masihkah kau rebah di sampingku
Tak ada kata dan rengekan
dari bayi yang telah dikubur
dan tanahnya masih basah
Tak ada nyanyian burung
Yang telah mati tertembak tadi sore
Tak ada musik yang mengalun
Hanya hembus nafas
yang terdengar berirama
dari ruang yang tak berAC
mari kita nikmati hari ini
dengan tetes air yang turun
dari atap yang tiada penghalang
hingga Izrail menyambangi kita
Kekuasaan: Sebuah Potret
Saat padang kurusetra telah penuh
Ribuan tentara berhamburan
Membela yang patut dibela
Tak pandang keluarga
Tak pandang orang yang berjasa
Hanya keserakahan tersisa
Di sebuah bilik
Meringkuk seorang wanita tua
Yang tiada pernah berkesempatan
untuk mengasuh anaknya
di medan laga anak-anaknya saling bunuh
demi kekuasaan yang tidak pandang bulu
apakah itu bulu kucing ataukah bulu tikus
kepada yang Esa
ia hanya mampu mengirimkan sebuah doa
bagi keselamatan anaknya
Saat panah menembus
Bisma dan Karna gugur
sesal hati tiada guna
Aku
aku ingin menjadi matahari
yang tiada lelah memberi sinar
bagi kehidupan
aku ingin menjadi pelangi
yang selalu memberi keindahan
meski hanya sekejap
aku ingin menjadi rembulan
yang selalu menghiasi malam
di tengah gulita yang tiada tara